INVENTORI TUGAS
PERKEMBANGAN (ITP)
Dosen Pengampu :Caraka Putra Bhakti, S.Pd.
Di Susun Oleh :
Kelompok 4
1. Nur Naharoh (1300001286)
2. Lisna Kusuma Arum P (1300001289)
3. Sri Fetrianingsih (1300001279)
4. Lusiana Dewi (1300001262)
5. Yudha Nanda Pratama (1300001285)
6. Agung Gunawan (1300001297)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Inventori Tugas Perkembangan (ITP)
merupakan instrumen yang digunakan untuk memahami tingkat individu. Instrumen
ini dikembangkan oleh Tim pengembang dari Universitas Pendidikan Indonesia
(Sunaryo Kartadinat,dkk.). Penyusunannya dimaksudkan untuk menunjang kegiatan
bimbingan dan konseling di sekolah.ITP disusun dalam bentuk empak buku
inventori, masing-masing untuk memahami perkembangan peserta didik di tingkat
SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi.
Dengan mengetahui tingkat pencapaian
perkembangan siswa, diharapkan konselor memiliki kesadaran bahwa program dan
bimbingan dan konseling di sekolah harus berdasarkan pada kebutuhan dan
perkembangan siswa. Pengembangan instrumen mengacu pada teori perkembangan diri
dari Loevinger yang terdiri dari tujuh tingkatan (Lee Knefelkamp, et.al., 1978
dan Blocher, 1987 dalam Sunaryo Kartadinata, dkk., 2003).
Inventori tugas perkembangan telah
diujicobakan kepada 336 siswa SD. 323 siswa SLTP, 313 siswa SLTA, dan 219
mahasiswa. Hasil sementara menunjukkan tingkat reliabilitas dan validitas pada
tingkat sedang.Hasil uji coba menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat
konsistensi peserta didik dalam menjawab, makin tinggi tingkat
realibitasnya.Apabila dilihat dari homogenitas peserta didik yang mengerjakan
ITP, maka makin homogen, reliabilitasnya semakin rendah. Artinya bila ITP
diadministrasikan pada kelompok heterogen dan peserta mengerjakan dengan
sungguh-sungguh, tingkat reliabilitas ITP akan tinggi.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis dapat merumuskan masalah yang akan
dibahas yakni sebagai berikut :
1. Bagaimana
konsep dasar ITP?
2. Bagaimana
kelebihan dan kekuranga ITP?
3. Bagaimana
peran dan fungsi konselor dalam ITP?
4. Bagaimana
langkah-langkah pengadministrasian dalam ITP?
5. Bagaimana
langkah-langkah pengolahan dan analisis dalam ITP?
C.
Tujuan Masalah
Berdasarkan
Rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui konsep dasar ITP?
2.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekuranga
ITP?
3.
Untuk mengetahui peran dan fungsi
konselor dalam ITP?
4.
Untuk mengetahui langkah-langkah
pengadministrasianal dalam ITP?
5.
Untuk mengetahui langkah-langkah pengolahan
dan analisis dalam ITP?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Inventori Tugas
Perkembangan (ITP)
Inventori
Tugas Perkembangan (ITP) merupakan instrumen yang digunakan untuk memahami
tingkat individu. Instrumen ini dikembangkan oleh Tim pengembang dari
Universitas Pendidikan Indonesia (Sunaryo Kartadinat,dkk.). Penyusunannya dimaksudkan
untuk menunjang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.ITP disusun dalam
bentuk empak buku inventori, masing-masing untuk memahami perkembangan peserta
didik di tingkat SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi.
Tingkatan
tersebut dimulai dari pra-sosial, yaitu tingkatan dimana individu belum mampu
membedakan diri dengan lingkungan.Tingkatan terakhir, integrated, merupakan
tingkatan yang jarang dicapai oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu, bangun
tingkatan perkembangan dalam ITP terdiri atas tujuh tingkatan, yaitu :
1. Tingkat
implusif
Memiliki
ciri-ciri memiliki identitas diri sebagai bagian yang terpisah dari orang lain.
pola perilaku menuntut dan bergantung pada lingkungansebagai sumber ganjaran
dan hukuman, serta berorientasi sekarang (tidak berorientasi pada masa lalu
atau masa depan). Individu tidak menempatkan diri sebagai faktor penyebab
perilaku.
2. Tingkat
perlindungan diri
Memiliki
ciri-ciri peduli terhadap kontroldan keuntungan yang dapat diperoleh dari
berhubungan dengan orang lain. Mengikuti aturan secara oportunistik dan
hedonistik (prinsip menyenangkan diri).Berpikir tidak logis dan
stereotip.Cenderung melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Cenderung
menyalahkan dan mencela orang lain dengan lingkungan.
3. Tingkat
konformistik
Memiliki
ciri-ciri yang meliputi :
a. Peduli
terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial,
b. Cenderung
berpikir sterotip dan klise,
c. Peduli
akan peraturan eksternal,
d. Bertindak
dengan motif dangkal (untuk memperoleh pujian),
e. Menyamakan
diri dalam ekspresi emosi,
f. Kurang
intropeksi,
g. Perbedaan
kelompok didasarkan atas cirir-ciri eksternal,
h. Takut
tidak diterima kelompok,
i.
Tidak sensitif terhadap keindividualan,
dan
j.
Merasa berdosa jika melanggar aturan.
4. Tingkat
sadar diri
Memiliki
ciri-ciri yang meliputi :
a. Mampu
berfikir alternatif,
b. Melihat
harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi,
c. Peduli
untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada,
d. Orientasi
pemecahan masalah,
e. Memikirkan
cara hidup,
f. Penyesuaian
terhadap situasi dan peranan.
5.
Tahap seksama
Memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Bertindak
atas dasar nilai internal,
b. Mampu
melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan,
c. Mampu
melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri,
d. Peduli
akan hubungan mutualistik,
e. Memiliki
tujuan jangka panjang,
f. Cenderung
melihat peristiwa dalam konteks sosial,
g. Berpikir
lebih kompleks dan atas dasar analisis.
6. Tingkat
individualistik
Memiliki
ciri-ciri meliputi :
a. Peningkatan
kesadaran individualitas,
b. Kesadaran
akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan,
c. Menjadi
lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain,
d. Mengenal
eksistensi perbedaan individual,
e. Mampu
bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan,
f. Membedakan
kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya,
g. Mengenal
kompleksitas diri, dan
h. Peduli
akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
7. Tahap
otonomi
Memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Memiliki
pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan,
b. Cenderung
bersikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain,
c. Peduli
akan paham abstrak seperti keadilan sosial,
d. Mampu
mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan,
e. Peduli
akan self-fulfillment (pemuasan
kebutuhan diri),
f. Ada
keberanian untuk menyelesaikan konflik internal,
g. Respek
terhadap kemandirian orang lain,
h. Sadar
akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain, dan
i.
Mampu mengekspresikan perasaan dengan
penuh keyakinan dan keceriaan.
Tingkatan
perkembangan merupakan struktur kontinum perkembangan diri dari yang paling
sederhana sampai yang paling kompleks.Digunakan untuk mendeskripsikan
keberadaan individu dalam kontinum perkembangan.Setiap tingkatan dibangun atas
dasar tingkatan sebelumnya dan menjadi dasar tingkatan berikutnya.Peningkatan
perkembangan sepanjang kontinum perkembangan menggambarkan perbedaan kualitatif
tentang cara-cara individu berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam
ITP, ada 10 aspek yang diukur untuk siswa SD dan SLTP, sementara untuk siswa
SLTA dan perguruan tinggi ada 11 aspek, yaitu:
a. Landasan
hidup religius
b. Landasan
perilaku etis
c. Kematangan
emosional
d. Kematangan
intelektual
e. Kesadaran
tanggung jawab
f. Peran
sosial sebagai pria atau wanita
g. Penerimaan
diri dan pengembangannya
h. Kemandirian
perilaku ekonomis
i.
Wawasan persiapan karier
j.
Kematangan hubungan dengan teman sebaya
k. Persiapan
diri untuk pernikahaan dan hidup berkeluarga
Angket
Inventori Tugas Perkembangan memiliki berbagai karakteristik yang khas, yaitu :
1. Inventori
Tugas Perkembangan berbentuk angket terdiri dari kumpulan pernyataan, di mana
setiap nomor terdiri dari 4 butir pernyataan yang mengukur satu subaspek.
2. Tingkat
perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek.
3. Besar
skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa.
4. Angket
ITP untuk setiap tingkat pendidikan memiliki jumlah soal yang berbeda.
B. Kelebihan dan Kekurangan ITP
Seperti
umumnya alat asesmen, maka ITP memiliki kelebihan maupun kekurangan.
1.
Kelebihan Inventori Tugas Perkembangan
Adapun
kelebihan ITP antara lain :
a. Melalui
skor hasil ITP konselor dapat lebih mudah memahami tingkat perkembangan
individu.
b. Alat
asesmen yang dapat digunakan sebagai dasar penetapan program bimbingan dan
konseling berbasis perkembangan inividu.
c. Pengolahan
hasil ITP dapat dilakukan dengan cepat karena dilengkapi dengan program
pengolahan ATP berbasis komputer versi 3.5.
2. Keterbatasan
Inventori Tugas Perkembangan
Sedangkan
kekurangan atau keterbatasannya antara lain :
a. Belum
dapat digunakan sebagai alat seleksi, baik untuk menentukan kelulusan maupun
untuk penempatan.
b. Skor
ITP belum diuji hubungannya dengan aspek perkembangan atau aspek kepribadian
lainnya, sehingga belum dapat digunakan untuk memprediksi aspek kepribadian
secara lengkap.
c. ITP
sebagai dasar pengembangan model bimbingan di perguruan tinggi telah diuji
secara empirik. Namum jumlah sekolah uji coba masih terbatas.
d. Penggunaan
ATP untuk kalangan luas masih dalam tahap awal, sehingga masukan untuk
penyempurnaan ITP maupun ATP masih diharapkan dari para pemakai.
C. Peran dan Fungsi Konselor dalam
ITP
Pada
proses asasmen menggunakan InventoriTugas Perkembangan (ITP), konselor memiliki
peran dan fungsi sebagai berikut:
a. Perencana,
yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan peserta
didik sebagai sasaran asesmen, menyediakan buku dan lembar jawaban ITP sesuai
jumlah peserta didik sasaran, dan membuat satuan layanan asesmen ITP.
b. Pelaksana,
yaitu memberikan verbal setting (menjelaskan
tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data), memandu peserta didik dalam cara
mengerjakan sehingga dapat di pastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan
benar.
c. Melakukan
pengolahan data kuantitatif mulai dari menghitung hasil dengan menggunakan
format yang spesifik, berdasarkan skor yang diperoleh menetapkan tingkat
pencapaian tugas perkembangan, membuat grafik 11 aspek perkembangan, serta
membuat deskripsi analisis kualitatif pencapaian tahap perkembangan dan aspek
perkembangan dengan merujuk pada pedoman yang ada.
d. Melakukan
tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan
konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
D. Langkah-Langkah Pengadministrasian
dalam ITP
1. Perencanaan
Sebelum
melakukan asesmen, konselor melakukan perencanaan dengan menetapkan tujuan
layanan asesmen, menetapkan sasaran dan jumlah sasaran layanan, menetapkan
waktu dan tempat pelaksanaan asesmen yang memiliki pencahayaan dan sirkulasi
udara yang baik, penyediaan meja dan kursi yang nyaman untuk mengerjakan
asesmen. Selain itu mempersiapkan buku ITP dan lembar jawaban sesuai dengan
jumlah sasaran yang akan mengikuti asesmen.
a. Pelaksanaan
Pada
saat pelaksanaan asesmen dengan menggunakan ITP konselor perlu melakukan
beberapa hal sebagai berikut :
a. Pada
pertemuan awal konselor memberi verbal
setting (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan).
b. Kepada
siswa dibagikan buku inventori beserta lembar jawaban.
c. Siswa
diminta mengisi identitasnya pada lembar jawaban.
d. Konselor
membacakan petunjuk pengerjaan, sementara siswa membaca petunjuk yang terdapat
dalam buku ITP.
e. Tanya
jawab dan penjelasan lebih lanjut bila ada siswa yang masih belum memahami cara
mengerjakan.
f. Siswa
dipersilahkan mengerjakan ITP pada lembar jawaban.
g. Waktu
mengerjakan secukupnya, diperkirakan paling cepat 20 menit dan paling lambat 40
menit. Tidak boleh ada yang mengosongkan jawaban.
h. Selesai
mengrjakan, lembar jawaban dan buku inventori dikumpulkan.
E. Langkah-Langkah Pengolahan dan
Analisis
1. Penskoran
dan pengolahan
a. Setelah
pelaksanaan asesmen selesai, konselor mengelompokkan lembar jawaban sesuai
tingkat sekolah, sebab masing-masing tingkat memiliki kunci jawaban yang
berbeda.
b. Menghitung
tingkat konsistensi jawaban
1) Lihat
kesamaan jawaban terhadap dua nomor yang isi pernyataannya sama persis.
Pasangan nomor yang isinya sama persis dapat dilihat tabel konsistensi.
2) Bila
kedua jawaban sama, diberi skor 1, bila tidak sama maka diberi skor 0. Tulis
angka tersebut pada kolom konsistensi di lembar jawaban.
3) Jumlahkan
skor konsistensi, jumlah skor maksimal 11. Skor konsistensi yang 5 ke bawah,
menunjukkan bahwa yang bersangkutan kurang serius dalam mengerjakan ITP.
c. Menghitung
skor setiap aspek perkembangan
1) Pada
lembar jawaban, tulis skor tiap nomor sesuai dengan kunci.
2) Jumlahkan
6 skor yang satu baris, tulis jumlah itu pada kolom paling kanan di lembar
jawaban.
3) Lakukan
sampai baris terbawah.
4) Masing-masing
jumlah skor dibagi 6, diperoleh rata-rata skor tiap aspek itulah yang
menunjukkan tingkat perkembangan siswa dalam aspek bersangkutan. (tulis dalam
kolom ST).
d. Menghitung
rata-rata skor aspek tiap siswa dan rata-rata seluruh siswa atau kelompok.
Rata-rata skor ini digunakan sebagai bahan perbandingan dalam menganalisis ITP.
1) Untuk
skor setiap siswa, jumlahkan skor semua aspek, kemudian dibagi 11 (banyaknya
aspek). Angka itu adalah rata-rata skor semua aspek (ST) per siswa.
2) Untuk
skor kelompok, jumlahkan rata-rata skor semua aspek (ST) dari semua siswa,
kemudian bagi jumlah siswa dalam kelompok itu. Itulah rata-rata skor semua
siswa dalam satu kelompok.
e. Membuat
grafik individual dan grafik kelompok
1) Grafik
individual dibuat berdasarkan skor tiap aspek dari seorang siswa, sehingga dihasilkan
grafik profil individu dalam 10 atau 11 aspek perkembangan.
2) Grafik
kelompok dibuat berdasarkan rata-rata skor tiap aspek dari seluruh siswa,
sehingga dihasilkan grafik profil individu didalam kelompoknya, dalam 10 atau
11 aspek perkembangan.
f. Interpretasi
hasil skor dan grafik
1) Rata-rata
skor aspek setiap siswa atau rata-rata skor seluruh siswa digunakan sebagai
bahan perbandingan dalam menganalisis ITP.
2) Untuk
melakukan interpretasi lihat kembali table skor dan tahapan perkembangan untuk
setiap tingkat pendidikan (SD, SLTP, SLTA, PT).
3)
Bila ada pada tahap seksama atau sadar
diri, lalu anda deskripsikan apa maknanya, dengan melihat deskripsi setiap
tahap perkembangan. Masing-masing jumlah skor dijumlah empat, diperoleh
rata-rata skor setiap aspek. Skor tiap aspek itulah yang menunjukkan tingkat
perkembangan siswa dalam aspek bersangkutan dalam (tulis pada kolom ST).
4)
Dari grafik anda dapat melakukan
analisis, aspek mana saja dari perkembangan yang sudah berkembang sesuai dengan
kategori tingkat pendidikan saat ini, atau yang masih belum optimal berkembang.
5)
Berdasarkan hasil grafik, anda dapat
merancang program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan
siswa.
2.
Perangkat untuk proses pengolahan hasil
ITP
1)
Tabel Konsistensi
Pada tabel ini beberapa
nomor dijalur kiri memiliki kesamaan dengan nomor-nomor soal dijalur kanan.Ini
digunakan untuk melihat tingkat konsistensi jawaban peserta didik saat
menjawab/memilih pernyataan pada inventori tugas perkembangan. Konsistensi
dalam menjawab ITP yang baik adalah bila berada minimal besar >5 sampai
maksimal=11.
2)
Tabel kunci jawaban ITP
Untuk memberi skor
pada setiap hasil jawaban atau pilihan pernyataan peserta didik pada lembar
jawaban ITP diperlukan kunci jawaban, karena setiap kemungkinan pilihan jawaban/pernyataan
pada setiap butir soal memiliki bobot skor yang berbeda-beda.
3)
Tabel skor dan tingkat perkembangan
ITP
Untuk melakukan
analisis terhadap perolehan skor pada penggunaan ITP, perlu merujuk pada
klasifikasi yang telah ditetapkan oleh pengembang alat asesmen ini setiap
tingkat pendidikan memiliki skor dan tingkat perkembangan yang berbeda,
walaupun demikian setiap tingkat pendidikan memiliki titik singgung skor maupun
pencapaian tingkat perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat perkembangan
individu merupakan suatu rangkaian proses berkesinambungan.
a)
Tingkat SD
Skor dan Tingkat
Perkembangan Tingkat SD
|
SKOR
|
KODE
|
TINGKAT PERKEMBAMNGAN
|
|
1
|
IMP
|
IMPLUSIF
|
|
2
|
PLD
|
PERLINDUNGAN DIRI
|
|
3
|
KOM
|
KONFORMITAS
|
|
4
|
SDI
|
SADAR DIRI
|
b)
Tiingkat SLTP
Skor dan Tingkat
Perkembangan Tingkat SLTP
|
SKOR
|
KODE
|
TINGKAT PERKEMBANGAM
|
|
2
|
PLD
|
PERLINDUNGAN DIRI
|
|
3
|
KOM
|
KONFORMITAS
|
|
4
|
SDI
|
SADAR DIRI
|
|
5
|
SAKS
|
SAKSAMA
|
c)
Tingkat SLTA
Skor dan Tingkat
Perkembangan Tingkat SLTA
|
SKOR
|
KODE
|
TINGKAT PERKEMBANGAN
|
|
3
|
KOM
|
KONFORMITAS
|
|
4
|
SDI
|
SADAR DIRI
|
|
5
|
SAK
|
SAKSAMA
|
|
6
|
IND
|
INDIVIDUALITAS
|
d)
Tingkat PT
Skor dan Tingkat
Perkembangan Tingkat Perguruan Tinggi
|
SKOR
|
KODE
|
TINGKAT PERKEMBANGAN
|
|
4
|
SDI
|
SADAR DIRI
|
|
5
|
SAK
|
SAKSAMA
|
|
6
|
IND
|
INDIVIDUALITAS
|
|
7
|
OTO
|
OTONOMI
|
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Inventori Tugas
Perkembangan (ITP) merupakan instrumen yang digunakan untuk memahami tingkat
individu. Instrumen ini dikembangkan oleh Tim pengembang dari Universitas
Pendidikan Indonesia (Sunaryo Kartadinat,dkk.).
ITP memiliki
empat format yaitu ITP-SD, ITP-SLTP, ITP-SLTA, ITP-PT, masing-masing format
memiliki petunjuk teknis penggunaan, buku inventori tugas perkembangan, buku
petunjuk penggunaan program khusus ATP versi 3.5 dan CD program ATP versi 3.5
Pengembangan ITP
mengacu pada teori perkembangan diri dari Loevinger yang terdiri dari tujuh
tingkatan, yaitu tingkat impulsive, perlindungan diri, konformistik, sadar
diri, seksama, individualistik, dan otonomi. Berisi 10 aspek perkembangan pada
siswa SD dan SLTP dan 11 aspek pada siswa SLTA dan mahasiswa PT, meliputi
landasan hidup religious, landasan perilaku etis, kematangan emosional,
kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria
atau wanita, penerimaan diri dan pengembangannya, kemandirian perilaku
ekonomis, wawasan persiapan karier, kematangan hubungan dengan teman sebaya,
dan persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.
Inventori Tugas
Perkembangan telah diujicobakan kepada 336 siswa SD. 323 siswa SLTP, 313 siswa
SLTA, dan 219 mahasiswa. Hasil sementara menunjukkan tingkat reliabilitas dan
validitas pada tingkat sedang.
DAFTAR
PUSTAKA
Komalasari, Gantina. Dkk.2011. Asesmen Teknik Nontes dalam
Perspektif BK Komprehensif. Jakarta: PT Indeks.
